Penelitian ini menganalisis hubungan antara rivalitas geopolitik AS-Cina dan
pengaruhnya terhadap proses formulasi norma siber global PBB (UN GGE dan UN
OEWG) tepatnya setelah tahun 2017-2021. Sejak awal Cina mendapatkan
kemerdekaannya di tahun 1949 hingga saat ini, hubungan yang terjalin antara AS dengan
Cina selalu diwarnai oleh konflik dan kompetisi, termasuk dalam domain siber. AS
berkeinginan untuk mempertahankan posisi hegemoninya (status quo) dengan
mengajukan pendekatan multi-stakeholder dalam tata kelola domain siber. Sementara
Cina berkeinginan untuk menghapus hegemoni AS dengan cara mengubah pendekatan
tata kelola domain siber menjadi pendekatan multilateral. Dengan melihat berbagai faktor,
termasuk faktor historis layaknya perbedaan rezim, perbedaan persepsi ancaman,
perbedaan kapasitas teknologi siber, perbedaan kebijakan domestik, serta perbedaan
kebijakan luar negeri, maka tesis ini melihat bahwa rivalitas geopolitik antara AS dan
Cina adalah sebuah variabel yang relevan terhadap dinamika formulasi norma siber
global PBB. Tesis ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis dari data-data
primer layaknya sumber utama dan hasil wawancara bersama narasumber ahli, juga data-
data sekunder dari penelitian-penelitian terdahulu. Selanjutnya, berdasarkan variabel-
variabel teori konstruktivisme dalam keamanan siber, tesis ini menemukan bahwa: 1)
status AS dan Cina sebagai great power merupakan salah satu faktor utama yang
menghambat terbentuknya norma siber hingga saat ini. Bahkan berpotensi menghambat
terbentuknya perjanjian internasional yang lebih mengikat. Status kedua negara sebagai
great power membuat negara tersebut lebih memilih mempertahankan kepentingan
nasional dan strategisnya daripada harus mematuhi norma yang ada; dan 2)
kecenderungan negara-negara dalam mengembangkan kapabilitas sibernya, yang
berpotensi terhadap perkembangan insiden siber di antara negara-negara membuat
pengaruh dari norma siber yang sudah ada menjadi berkurang.
Deskripsi Lengkap