Disertasi ini bertujuan untuk menjelaskan feminisasi yang terjadi pada PDI Perjuangan dan Partai Keadilan Sejahtera periode 2004-2019. Feminisasi merupakan sebuah proses integrasi perempuan baik dari segi jumlah maupun gagasannya di dalam institusi politik formal. Perkembangan poltik di Indonesia menunjukkan bahwa partai politik yang merupakan gatekeeper dan penentu keputusan politik masih male dominated dan memarjinalisasi perempuan. Oleh sebab itu, feminisasi partai politik menjadi penting dilakukan sebagai upaya untuk memperjuangkan agenda/kepentingan politik perempuan yang berdampak pada keadilan dan kesetaraan. PDI Perjuangan dan PKS dipilih sebagai unit analisis dalam penelitian disertasi ini didasarkan pada indikator ideologi partai, keterpilihan perempuan dalam pemilu, pencalonan perempuan dalam pemilu, kebijakan partai terkait kuota gender dan respons partai terhadap kebijakan pro-perempuan. Teori yang digunakan untuk menganalisis feminisasi PDI Perjuangan dan PKS dalam disertasi ini adalah feminisasi partai politik yang ditulis oleh Sarah Childs (2008) dan teori keadilan yang meliputi dimensi rekognisi, redistribusi dan representasi dari Nancy Fraser (2003). Penelitian disertasi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada sejumlah informan partai politik dari PDI Perjuangan dan PKS. Selain itu, pengumpulan data sekunder dilakukam melalui analisis dokumen AD/ART partai, data struktur kepengurusan DPP PDI Perjuangan dan PKS, dan data pencalonan dan keterpilihan perempuan dalam pemilu. Temuan penelitian menunjukkan bahwa feminisasi yang terjadi di PDI Perjuangan dan PKS menunjukkan level yang berbeda. PDI Perjuangan berada pada level feminisasi sedang, adapun PKS berada pada level feminisasi lemah. Perbedaan ini disebabkan karena faktor ideologi, gerakan perempuan dan peran pimpinan partai. Disertasi ini menyimpulkan bahwa meskipun level feminisasi PDI Perjuangan terlihat lebih baik dibandingkan PKS, akan tetapi jika dianalisis dengan menggunakan konsep keadilan maka yang terjadi pada PDI Perjuangan dan PKS adalah feminisasi semu (pseudo-feminization). Hal ini didasarkan pada kondisi bahwa secara angka representasi perempuan di PDI Perjuangan dan PKS cukup baik namun berdasarkan analisis menggunakan teori keadilan maka yang terjadi adalah maldistribusi dan misrepresentasi.
Deskripsi Lengkap